DINAMIKA PENGUASAAN LAHAN DI DESA ROHOMONI
Oleh Ismail Munadi  Sangadji, SP, M. SI Peneliti IPB

By Adminjabar 01 Nov 2018, 21:41:37 WIBDaerah

DINAMIKA PENGUASAAN LAHAN DI DESA ROHOMONI

Keterangan Gambar : Ilustrasi


Sejarah mencatat bahwa Bangsa Indonesia mengalami peristiwa yang begitu kelam dengan permasalahan yang bersumber dari adanya upaya untuk melakukan pelawanan terhadap kepemilikan lahan. Konflik Agraria masih mewarnai masyarakat khususnya diwilayah-wilayah yang padat dengan akses pertanian. Masyarakat menganggap bahwa lahan-lahan yang dimiliki berasal dari lahan warisan yang sejak lama terwariskan hingga kini, namun ada kelompok minoritas lainya yang menganggap bahwa lahan yang ada juga berasal dari lahan peninggalan para leluhur, akibat dari terjadi kontradiksi pemahaman mengenai kepemilikan lahan sehingga memunculkan konflik bermuatan kepentingan. Berdasarkan data Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA)  bahwa pada tahun 2016 telah terjadi angka konflik lahan yang berdampak terhadap 86, 745  KK, konflik ini telah menjalar ke sektor Pertanian sebanyak 7 konflik, Migas pesisir kelautan 7 konflik, Pertambangan 21 konflik, Kehutanan 25 konflik, Infrastruktur 100 konflik, Properti 117 konflik, Perkebunan 163 konflik. Urutan kejadian konflik dijelaskan di atas juga muncul pada 5 Provinsi di Indonesia yakni, Aceh 24 konflik, Sumatera utara, 36 konflik, Riau 44 konflik, Jawa barat 38 konflik, Jawa timur 43 konflik. Tumpang tindih kepemilikan lahan ini terjadi karena adanya legal pluralism dalam pengelolaan lahan milik masyarakat adat yang telah dijelaskan di atas.  

Periode transisi konflik agraria berkutat pada permasalahan sosial ekonomi dan politik di Indonesia yang telah memunculkan dinamika perkembangan penguasaan lahan pada dua arena kontestasi kepemilikan, yakni batas-batas kepemilikan lahan tidak jelas dan surat kepemilikan lahan tidak jelas yang hendak peneliti lihat pada studi ini, tentunya merupakan serangkaian dari berbagai permasalahan yang seringkali timbul dalam kehidupan masyarakat dan juga terjadi di berbagai daerah khususnya di Maluku. Pada dasarnya, tanah (lahan) merupakan aspek yang paling penting dalam sejarah kehidupan manusia, serta menjadi sentral dari hampir keseluruhan aktivitas kehidupan masyarakat. Misalnya, untuk mencari nafkah dengan cara bercocok tanam, tempat tinggal, membangun gedung, serta banyak aktivitas lainnya. Bagi sebagian orang, tanah tidak hanya dimaknai sebagai tempat tinggal, namun lebih dari itu. Selain untuk aktivitas produksi dari nafkah hidup (infrastruktur), tanah juga dapat dimaknai sebagai komuditas ekonomi untuk melanggengkan kekuasaan individu dan kelompok.

Berharganya nilai lahan tidak jarang membuat banyak orang berpacu untuk mendominasi serta menguasai disuatu tempat bahkan proses penguasaan dilakukan dengan berbagai cara. Hasil observasi awal di lokasi studi, peneliti mendapatkan informasi bahwa telah terjadi dominasi dan segregasi penguasaan lahan oleh berbagai aktor di Desa Rohomoni yang muncul dalam bentuk klaim kepemilikan dan penguasaan (tenurial) yang sering dijumpai dalam berbagai kasus dan dijadikan sebagai alasan untuk menuntut pengembalian lahan atau tanah. Komposisi penguasaan tanah ini yang kemudian menyebabkan munculnya ketegangan di antara kelompok masyarakat tersebut ditingkat pengguna sumber daya. Merujuk pada informasi di lapangan, ketegangan tersebut semakin jelas pada saat kelompok dari marga yang lain meninjau lahan-lahan pertanian yang diberikan oleh masing-masing kepala adat atau marga. Bahkan, satu minggu sebelum peneliti memasuki lokasi penelitian, telah terjadi polemik sengketa lahan antara aktor akibat batas-batas kepemilikan lahan tidak jelas dan surat kepemilikan lahan tidak jelas. Pada kondisi seperti ini, identitas dari masing-masing marga dijadikan instrumen untuk mempertanyakan hak kepemilikan lahan di lokasi studi, di mana keluarga dari pemilik lahan seyogianya lebih berhak sebagai pemilik tanah karena “nenek moyang mereka” sudah lama menggarap lahan di lokasi studi sekaligus dibuktikan dengan surat kepemilikan lahan milik Belanda (Register dati). Sejalan dengan permasalahan di lokasi studi, peneliti memiliki keinginan untuk menganalisis secara mendalam terkait dinamika yang mewarnai kehidupan masyarakat Desa Rohomoni yang kemudian dipicu oleh adanya penguasaan lahan antara berbagai aktor, baik aktor yang ada dalam marga maupun diluar marga. Dalam penelitian ini peneliti juga ingin membatasi fokus penelitian ini agar tidak menyebar ke segala aspek yang ada di lapangan.

 

Deskripsi Konflik Lahan di Desa Rohomoni

 

Analisis konflik lahan diamati melalui struktur berbagai aktor yang berkonflik. Pada level inilah kekuasaan antara aktor berlangsung dalam nuansa konflik akibat masing-masing mempertahankan legalitas kepemilikan lahan yang dianggap sebagai kepemilikan individu. Hasil pengamatan dilapangan menunjukan bahwa, ketidakpastian penguasaan lahan merupakan permasalahan yang mendasari  perjalanan konflik dan kekerasan sosial dilevel masing-masing aktor. Dampak utama dari konflik yang terjadi disebabkan karena bermacam interpretasi hak kepemilikan yang menyebabkan sengketa klaim penguasaan tanah secara sepihak terhadap kepemilikan komunal.

Konflik bernuansa klaim muncul dari studi kasus dapat disajikan pada dua gambar tipologi yang dijadikan sebagai model analisis untuk memetakan dinamika konflik yang mewarnai masing-masing aktor dalam pertarungan perebutan sumber daya. Dimensi konflik lahan disini lebih ditekankan pada upaya masing-masing aktor dalam berkontestasi untuk melanggengkan kekuasaan distributif, dengan demikian,  adapun teori yang digunakan  peneliti untuk membedah kasus konflik lahan yakni menurut Fisher (2001) terdapat beberapa komponen dari perilaku konflik, yakni  Konflik manifes, konflik ini terjadi antara aktor terhadap perbutan status kepemilikan lahan, baik kepemilikan individu maupun bersama muncul dalam bentuk kontak fisik. Konflik laten, konflik ini  terjadi dalam bentuk klaim kepemilikan yang melibatkan masing-masing aktor dalam hal ini, individu yang berposisi sebagai pengusahaan lahan maupun individu sebagai pemilik lahan, namun juga ikut melibatkan anggota keluarga dari masing-masing pihak yang berkontestasi dalam arena kepentingan.

Penjelasan tipe dan status penguasaan lahan diatas disinergikan berdasarkan rezim kepemilikan sumber daya untuk menegaskan posisi setiap orang dalam rezim tersebut. Melihat penjelasan diatas menunjukan bahwa praktek penguasaan lahan berada pada kategori rezim kepemilikan komunal dalam ruang pertarungan antara  aktor, dimana pengelolaan maupun penguasaan berbasis tradisi masyarakat lebih ditekankan pada sumber daya ditingkat pengguna. Praktek klaim dan penguasaan lahan yang terjadi telah memunculkan upaya perlawanan masing-masing aktor dalam  melegitimasi batas kepemilikan lahan dan surat kepemilikan lahan. Pada rana inilah setiap aktor yang berkonflik cenderung meperkuat hak  kepemilikan yang dianggap sebagai kepemilikan yang sah

Dari sejumlah klaim yang terjadi, kebanyakan aktor menggunakan pendekatan sejarah kepemilikan dan struktur sosial secara kekeluargaan  dilevel marga untuk memperkuat klaim  pembenaran diantaranya. Klaim yang terjadi dibuktikan dengan kepentingan yang berbeda-beda, dan kepentingan itu diwujudkan dalam bentuk penguasaan lahan secara sepihak. Dalam konflik yang terjadi, seringkali masing-masing aktor dipenuhi oleh berbagai macam klaim bersaing untuk mendudukan hak kepemilikan. Dengan demikian, para aktor yang berkonflik mempunyai berbagai permasalahan  yang  dapat dijelaskan  pada Gambar 1 dibawah ini:

 

 Sumber: Hasil wawancara  2018

Hasil penelitian menunjukan bahwa bagaimana prespektif masing-masing aktor memainkan peran penting dalam dinamika konflik lahan yang kemudian di identifikasi berdasarkan 4 tipologi. Sebelum mengurai tipologi secara detail, peneliti perlu mengetengahkan bahwa proposisi kekuatan identitas dan prespektif aktor struktur yang bersimbiosis dalam relasi kekuasaan pengelolaan sumber daya lebih ditekankan pada kontestasi. Pada tipologi pertama, ditemukan pada surat kepemilikan lahan melibatkan antara aktor, konflik ini terlihat meningkat eskalasinya karena didorong oleh keinginan yang kuat dari masing-masing aktor untuk melakukan perlawanan maupun kontak fisik dalam mewujudkan tujuan klaim diantaranya. Konflik yang terjadi tidak hanya didorong oleh keinginan kedua belah pihak, namun juga ikut melibatkan keluarga inti dari masing-masing pihak yang saling berkontestasi. Selain itu aktor yang dimaksud dalam tipologi ini adalah individu-individu yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda dalam melebarkan kekuasaan distributif.

Tipologi kedua, terlihat bahwa konflik yang terjadi mengalami eskalasi yang cukup besar antara aktor serta didorong oleh keinginan dalam menguasai lahan-lahan yang dianggap sebagai hak kepemilikan. Dominasi penguasaan lahan ini terjadi diantara masing-masing aktor, bahwa masing-masing aktor yang berlawanan saling memperbenarkan klaim kepemilikan lahan. Kondisi ini menimbulkan adanya hubungan yang mengarah pada konflik, karena masing-masing aktor saling berbeda pendapat dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan. Konflik yang terjadi akibat lahan sering dijadikan sebagai komuditas ekonomi yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi membuat semua aktor kerap mewujudkan keinginanya dalam menguasai lahan milik privat maupun komunal.

 Tipologi ketiga, menunjukan bahwa intensitas konfliknya menurun, hal ini disebabkan oleh adanya konflik berbasis kepentingan serta di dorong oleh salah satu aktor yang berkontestasi memperebutkan batas-batas kepemilikan lahan tanpa memobilisasi keluarga inti kedua belah pihak. Konflik berbasis kepemilikan hanya ditemui di lokasi penelitian terkait dengan perebutan lahan milik bersama. Kepemilikan lahan yang disengketakan kemudian didominasi oleh pihak lain serta diklaim sebagai sumber hak kepemilikan individu. Konteks kepemilikan kerap dikaitan dengan sejarah asal usul di level aktor dan bukti kepemilikan lainya seperti sejumlah tanaman perkebunan yang masuk dalam areal batas-batas kepemilikan lahan milik salah satu aktor.

Tipologi kempat, terlihat bahwa aktor yang berkonflik memainkan peranya untuk melegitimasi status kepemilikan lahan. Kecenderungan penggunaan lahan oleh berbagai aktor dibuktikan dalam bantuk penguasaan secara sepihak di lokasi studi yang seringkali dijadikan alasan dalam mempertahankan lahan. Kepentingan penguasaan lahan di lokasi studi, peneliti kemudian melihat  bahwa konflik yang terjadi muncul dari perbedaan pemikiran atau pandangan diantara masing-masing aktor melalui bentuk persaingan, tetapi lebih muncul kepermukaan dalam bentuk saling berhadap-hadapan karena semakin hari konflik yang terjadi semakin menurun dari sudut kuantitas maupun kualitas berbagai pihak yang kerap kali mengakses lahan dengan cara-cara kekerasan.

Tampak jelas bahwa 4 tipologi konflik lahan yang dijelaskan di atas, masing-masing memiliki perbedaan kasus yang dapat di lihat dari upaya masing-masing aktor dalam mengakses serta menguasai lahan dengan berbagai cara memperluas bentuk-bentuk klaim  untuk mencapai tujuan. Tindakan dari masing-masing aktor yang berkonflik mencerminkan adanya dominasi kepentingan yang mengarah pada tujuan penguasaan lahan, baik lahan komunal maupun privat. Untuk itulah setiap aktor selalu diperhadapkan pada berbagai arena serta masing-masing memiliki ketentuan yang kemudian mempengaruhi bagimana seorang aktor berperilaku. Konflik yang ditemui di lokasi penelitian merupakan konflik manifes dan konflik laten yang dapat dilihat dari masing-masing aktor yang berkonflik, konflik manifes bisa diartikulasikan sebagai salah satu konflik yang selain melibatkan kedua belah pihak namun ikut juga dimobilisasi keluarga inti dari kedua belah pihak sehingga cenderung mengalami eskalasi. Sementara pada konflik laten, yakni konflik yang berasal dari kedua belah pihak yang bertikai dan tidak melibatkan keluarga inti sehingga tidak mengalami eskalasi.

 

Subyek dan Objek Konflik Lahan di Desa Rohomoni

Penguasaan lahan dengan berbagai kasus disebabkan oleh sengketa status kepemilikan, masing-masing aktor  umumnya mengetahui siapa pemilik dan siapa yang menguasai. Akibat dari diterapkanya kepemilikan lahan, para pihak akan berbenturan kepentingan dengan pihak lain pada lahan yang sama, seperti perbedaan persepsi serta interpretasi hak kepemilikan diantara aktor yang dapat menimbulkan gejolak konflik. Berdasarkan jenis hak yang dituntut masyarakat atas lahan pada studi ini diantaranya dapat dijelaskan, (1) hak kepemilikan individu (2) kepemilikan bersama. Pertama, hak milik atas lahan dilakukan oleh berbagai aktor dalam arena pertaruangan kepentingan karena salah satu aktor merasa ada sejumlah tanaman umur panjang di lokasi yang di sengketakan, sehingga aktor memiliki posisi untuk menggugat hak milik lahan aktor lainya. Sementara  pada aktor yang memiliki lahan, cenderung memperbenarkan tuduhan kepemilikan yang dibuktikan dengan surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kedua, hak kepemilikan bersama yakni semua lahan yang dimiliki oleh marga dapat dikelola secara bersama oleh masing-masing aktor untuk kepentingan privat, namun dilain sisi, hasil pengelolaan tersebut kemudian diberikan sebagian kepada marga dalam bentuk bagi hasil.

Peristiwa penguasaan lahan antara aktor ditandai dengan saling klaim mengenai status kepemilikan lahan yang dilakukan oleh masing-masing aktor, baik antara pemilik lahan maupun yang berstatus sebagai peminjan, dimana terjadi perbedaan sudut pandang dalam melihat persoalan yang terjadi, hal ini berkaitan dengan pengambil alihan lahan yang dilakukan secara paksa, mulai dari yang kontra atau menentang. Perebuatan lahan yang terjadi makin marak dengan tindakan pengambilan tanah yang dilakukan sewenang-wenang oleh ahli waris yang bukan bertindak sebagai pemilik lahan serta mengklaim kepemilikanya kepada pemilik dati dengan asumsi bahwa lahan yang diperebutkan merupakan milik yang bersangkutan dengan berpatokan pada sejumlah tanaman umur panjang yang menjadi dasar klaim yang bersangkutan, sementara pemilik lahan cenderung mengklaim kemudian membuktikan kepemilikan dengan surat kepemilikan tanah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada zaman feodal.

Penguasaan lahan oleh masing-masing aktor menunjukan bahwa dinamika konflik yang terjadi dapat diperjelas permasalahanya untuk melihat bagaimana penguasaan lahan terjadi ditahun-tahun selanjutnya, kemudian membandingkan tingkat konflik diantara berbagai aktor, baik konflik laten maupun manifes. Pemetaan konflik dilakukan berdasarkan permasalahanya, yang dikaji  dari berbagai sudut pandang peneliti mengenai perebutan kepemilikan lahan. Kemudian pemahaman ini membentuk dasar untuk mengembangkan strategi dan tindakan dalam menyelesaikan konflik. Analisis konflik dilakukan secara terus menerus seiring dengan perkembangan situasi, sehingga tindakan-tindakan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan berbagai faktor, seperti dinamika, dan keadaan yang berubah.

Sejalan dengan uraian permasalahan di atas, maka di petakan konflik lahan  berdasarkan studi kasus yang ditemui di lokasi penelitian terkait dengan penguasaan kepemilikan lahan yang dilakukan oleh berbagai aktor. Konflik yang terjadi kerap dikaitkan dengan sejarah asal usul kepemilikan dilevel marga dan di dalam marga berkaitan dengan hak kepemilikan lahan. Konflik berbasis kepemilikan terjadi dalam setiap fase sejarah masyarakatnya yang kerap dimanfaatkan oleh berbagai individu dan diklaim sebagai hak kepemilikan. Ada dua hak kepemilikan yang ditemui di Desa Rohomoni yakni kepemilikan komunal dan kepemilikan privat. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa penguasaan lahan oleh berbagai pihak mendorong setiap aktor untuk memperluas lahan yang dikuasainya demi tujuan tertentu. Lahan dalam pandangan masyarakat Desa Rohomoni sebagai alat produksi yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, oleh karena itu lahan seringkali dimanfaatkan oleh berbagai aktor sebagai objek kontestasi. 

Dengan demikian konflik lahan baik yang terjadi antara marga maupun dalam marga merupakan konflik yang bersifat batas-batas kepemilikan lahan tidak jelas dan surat kepemilikan lahan tidak jelas yang ditemui di lokasi studi dan dijadikan sebagai sumber utama munculnya konflik antara  aktor. Aktor yang berkonflik ini berasal dari masing-masing marga maupun dalam marga. Hasil dari pemetaan sejumlah aktor yang berkonflik di Desa Rohomoni ditemukan terdapat aktor-aktor yang berasal dari Desa Kabau sebagai desa tetangga yang memiliki sejumlah lahan yang ada di wilayah sengketa dan sering terjadi konflik. Konflik ini sering melibatkan anggota marga dari pemilik lahan tersebut yang selalu dikait-kaitkan dengan masalah hak waris dan kerap menimbulkan perlawanan diantarannya. 

Sementara pada lahan yang dimiliki oleh individu berasal dari pembagian yang dilakukan antara marga dan di dalam marga. Namun kemudian, status lahan digugat kepemilikanya oleh aktor lain yang memiliki tanaman perkebunan yang masuk dalam lahan yang telah dibagikan, karena pada awalnya lahan-lahan yang ada statusnya masih dipinjam dari kepala marga sebelum terjadi pembagian. Dengan demikian konflik yang terjadi antara marga berdasarkan kasusnya  berawal dari gugatan yang dilakukan diantara kedua belah pihak terkait dengan status kepemilikan yang kemudian digugat kepemilikanya oleh aktor lain karena lahan yang ada merupakan hak kepemilikan salah satu pihak yang dibenarkan melalui pembuktian tanaman perkebunan, sementara pada aktor yang lain mempertahankan status kepemilikan karena dibuktikan dengan Register dati. Berikut ini gambar tipologi konflik lahan berdsarkan subyek  dan objek.  Dengan demikian adapun subyek dari konflik lahan yang terjadi di Desa Rohomoni dapat dijelaskan sebagai dibawah ini:

 

Subyek

 

Antara Marga

Mencermati akar konflik lahan diantara masing-masing aktor dalam marga muncul dalam berbagai kepentingan, baik kepentingan individu maupun kelompok yang mengunakan lahan sebagai komuditas ekonomi untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh berbagai aktor. Konflik ini sempat muncul dalam bentuk konflik laten maupun manifes karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk menegasikan berbagai kepentingan terhadap lahan yang kerap dianggap sebagai lahan milik pribadi dan kemudian menafikan kepemilikan secara bersama. Kasus mengenai konflik kepemilikan ini muncul dalam bentuk pengakuan berbagai aktor yang dilatarbelakangi oleh adanya klaim dalam mencapai tujuan yang diinginkan oleh berbagi aktor. Aktor yang berada dalam marga memiliki peluang yang sangat besar untuk melakukan klaim maupun penguasaan lahan karena didukung dengan otoritas yang disandangnya berupa jabatan strategis dalam struktur marga, jabatan yang ada kerap dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Perbedaan basis penguasaan lahan diantara masing-masing aktor  terjadi dalam bentuk relasi yang terbangun antara kepala marga, relasi yang terbangun ini tidak hanya dalam bentuk keluarga terdekat, namun didukung oleh inisiatif dari masing-masing aktor yang dilatar belakangi oleh keinginan yang kuat untuk menggunakan cara-cara kekuasaan marga untuk mencapai tujuan dari penguasaan lahan. Konflik bermotif kekerasan dari dalam marga kerap terjadi karena masing-masing aktor berbeda pendapat maupun keinginan untuk mengakses lahan-lahan milik marga.

 

Dalam Marga

Konflik penguasaan lahan dalam marga kerap menghadirkan berbagai aktor yang dilatar belakangi oleh kecenderungan untuk saling menguasai lahan-lahan diantaranya. Konflik ini sempat mencuat karena ikut melibatkan antara aktor dalam akses pemanfaatan lahan milik marga, dengan anggapan bahwa lahan yang dikuasai merupakan lahan yang telah diwariskan secara turun temurun. Kondisi tersebut kerap ditenggarai oleh kecemburuan yang timbul antar aktor akibat perbedaan kepentingan dalam mengakses lahan. Pemicu konflik juga biasanya disebabkan oleh masalah hak kepemilikan tanah adat. Tanah adat menjadi masalah yang tidak pernah habis-habisnya di dilanda konflik berbasis kepemilikan. Hasil informasi yang dihimpun di lokasi penelitian menunjukan bahwa telah terjadi konflik bermuatan kepentingan diantara aktor muncul dalam bentuk konflik manifes karena selain masing-masing aktor yang berkonflik memperebutkan lahan, namun juga ikut melibatkan keluarga inti dari kedua belah pihak, akibatnya konflik mengalami eskalasi.

 

Objek

 

Tanah Ulayat

Tanah ulayat menurut defenisinya diartikan sebagai tanah milik bersama atau tanah adat yang menjadi  hak masyarakat adat serta dikuasai secara bersama-sama, dimana pengaturan maupun pengelolaannya dilakukan oleh pemimpin adat (kepala adat) dan pemanfaatnya diperuntukan baik bagi masyarakat yang dikategorikan bermarga maupun antara marga dalam suatu wilayah tersebut. Tanah ulayat adalah sebidang tanah beserta sumberdaya alam yang merupakan hak milik kolektif semua anggota suku yang penguasaan dan pemanfaatanya diatur oleh penghulu-penghulu suku. Sementara pada tanah marga didefenisikan sebagai tanah milik bersama yang dikelola dan dimanfaatkan secara bersama oleh anggota dari masing-masing marga. Dengan demikian pola penguasaan tanah ulayat masyarakat adat di Desa Rohomoni terjadi dalam bentuk klaim kepemilikan lahan dilihat dari sejauh mana peran masing-masing aktor saling bersinergi terhadap persoalan penguasaan yang seringkali disebut sebagai penyebab utama terjadinya beberapa konflik komunal atau konflik bermuatan kekerasan.

Klaim yang terjadi dilakukan sendiri oleh masyarakat lokal disekitar wilayah sengketa dengan kehadiran berbagai aktor yang saling berseberangan kepentingan, akibatnya terjadinya tumpang tindih dalam pengambilan hak yang diinisiasi oleh individu dan kelompok, dimana dampak utama dari munculnya konflik akibat bermacam interpretasi dan kebijakan yang saling berbenturan serta menyebabkan terjadinya konflik dan munculnya sengketa penguasaan lahan. Akibatnya, konflik dan sengketa klaim itu berdampak pada sistem penguasaan lahan. Kontradiksi antara kepentingan suatu aktor  dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhanya dalam mengusai lahan timbul dengan cara-cara  klaim,  hingga kontak fisik. Aktor-aktor tersebut memiliki kepentingan masing-masing yang memungkinkan terjadinya benturan persepsi diantaranya dan memunculkan konflik, khususnya berbasis kepemilikan. Konflik lahan dikategorikan menjadi pengambilalihan lahan  secara sewenang-wenang dan paksa yang dilakukan oleh pihak yang berkepntingan, karena didorong keinginan untuk menguasai dengan cara-cara tidak wajar.

 

Tanah Individu

Tanah individu atau privat berdasarkan kasus yang ditemui di lokasi penelitian telah menimbulkan konflik klaim kepemilikan, klaim ini dikaitkan dengan bukti kepemilikan maupun sejarah asal usul dari klan atau marga yang telah diwariskan, atau juga didorong oleh pendapat yang lain seperti adanya pola keterhubungan keluarga dengan marga pemilik lahan sehingga dengan demikian upaya untuk menguasai lahan dapat terwujud. Pola hubungan diantara individu dalam penguasaan lahan terjadi ketika kepala marga telah memberikan hak waris kepada struktur dari masing-masing marga. Struktur marga yang dimaksud yakni individu maupun kelompok yang merupakan anggota marga atau klan.  Penguasaan lahan diantara aktor tidak hanya terjadi dalam marga yang memiliki lahan, namun juga ikut melibatkan antara marga yang berlangsung dalam bentuk konflik kepemilikan. Protes yang terjadi diantara berbagai aktor ketika lahan yang dikelola oleh masing-masing aktor digunakan untuk kepentingan individu dan cenderung menafikan kepentingan secara bersama. Dengan demikian, adapun gambaran dari konflik antara aktor dalam arena perebutan kepemilikan lahan dapat diperjelas pada Gambar 2 dibawah ini:

   Sumber: Hasil wawancara 2018



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden Dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2019 - 2024
  1. Joko Widodo - Maruf Amin
  2. Prabowo Subianto - Sandiaga Salahudin Uno

Komentar Terakhir

  • Jasa SEO Indonesia Terbaik Bergaransi Uang Kembali

    Tampilan web Anda sangat bagus dan menarik. Great Job! ...

    View Article
  • Pemesanan Jasa SEO

    Makasih atas informasinya kawan. https://jasaseoweb.net/paket-jasa-seo-tahunan/ ...

    View Article